Tuesday, January 28, 2014

Biografi Prof. Aqib Suminto - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

SUMINTO, RADEN HUSNUL AQIB (L. 16 Agustus 1934). 

Terlahir dari keluarga kyai besar di Jawa Timur, semasa kecil Prof. Aqib Suminto sempat merasakan betapa berat memikul kebesaran nama ayahnya. Meskipun ia sebenarnya tak sempat lama hidup dengan sang ayah, KH Athqan, pemilik pesantren Maskumambang Sedayu, Surabaya, kebesaran nama ayahnya tetap ia rasakan bahkan ketika ia sudah beranjak dewasa sekalipun. Ayahnya menghadap sang Ilahi ketika usia Aqib baru menginjak tiga tahun. Setahun kemudian, ibunya pun menyusul sang ayah. Lengkaplah Aqib Suminto kecil menjadi seorang yatim piatu dalam usia empat tahun. Sebagai anak yatim piatu dan putra seorang kyai besar, ia tertekan setiap kali bertemu santri-santri almarhum ayahnya. Mereka selalu mengusap kepala Aqib kecil dengan penuh kasih sayang dan rasa hormat. Tapi, Aqib merasa penghargaan dari mereka itu sebenarnya bukan tertuju kepadanya, tetapi pada kebesaran orangtuanya. 

Dalam usia remaja yang ia lewatkan di pesantren sendiri, ia merasa tidak pantas mengaku sebagai anak seorang kyai besar. Ia merasakan perang batin dalam dirinya melihat banyak saudara-saudara ayahnya yang menjadi kyai. Perang batin itu terus berlangsung dari waktu ke waktu dan mendorongnya untuk belajar agama. Pesantren tempat ia dibesaran memang lebih banyak memberikan bekal-bekal dasar pokok yang penting diketahuinya sebagai seorang Muslim. Namun secara formal perkembangan pengetahuannya tentang agama itu terputus setelah ia berpindah dari pesantren ke sekolah umum, meski sekolah tersebut masih ‘berbau’ Islam. Karena itulah, seperti ditulis Aqib Suminto di majalah Panji Masyarakat edisi September 1984, ia lebih banyak belajar sendiri tentang Islam.

Prof. Dr. Aqib Suminto mempunyai nama lengkap Raden Husnul Aqib Suminto. Lahir di Desa Dukun, Maskumambang, Sedayu, Surabaya, Jawa Timur, pada 16 Agustus 1934. Lelaki yang dikenal sebagai dosen yang ramah ini wafat pada Sabtu, 24 September 1994, dalam usia 60 tahun, di Rumah Sakit Cipto Mangoenkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, pada pukul 23.30 WIB. Ia anak bungsu dari pasangan KH Athqon dengan RR Sribanoen. Aqib memiliki dua saudara kandung, masing-masing Ghonimah dan R. Karsono Subroto dan dua Saudara tiri, masing-masing Jamilah dan Abdul Mughni. Menjadi yatim piatu pada usia empat tahun, ia kemudian diasuh oleh kakak kandungnya, Ghonimah. 

Semasa hidupnya, Aqib aktif dalam bidang dakwah baik dengan ceramah-ceramah ataupun dengan tulisan yang tersebar dalam harian-harian dan majalah, misalnya ‘’Dakwah untuk Masyarakat’’ (Mimbar Ulama, 1977), ‘’Hidup Adalah Ujian’’ (Panji Masyarakat, 1981), “Dialog Antaragama di Negeri Belanda” (Teras), ‘’Khutbah Idul Fitri: Perlu Wawasan Untuk Jawab Problem Ketidakadilan’’ (Harian Terbit, 9 Apri 1991), “Ulama Kurang Menyiapkan Kader Meneruskan Misi Pewaris Nabi” (Harian Terbit, 9 Juni 1991) dan ‘’Dari Segi Dakwah, MTQ Besar Perannya” (Pelita, 1 Februari 1991). 

Sebagai seorang mubaligh, ia pernah beberapa kali diundang ke Malaysia dan Singapura, juga pernah berdakwah ke Belanda, Belgia, Jerman dan Inggris. Ia juga pernah mengunjungi Filipina, Hongkong, Jepang, dan Arab Saudi, serta aktif memberikan ceramah dan mengikuti seminar tentang masalah keagamaan. Di masa Orde Baru, Aqib Suminto pernah menjadi incaran intel yang saat itu sangat memperhatikan gerak-gerik para pendakwah atau ulama. Pada masa itu, pemerintah sangat berhati-hati terhadap para tokoh agama yang ditakutkan nantinya akan memprovokasi masyarakat dengan ajaran-ajaran yang menentang pemerintah. Nurul Hidayati, puteri Aqib Suminto, bercerita, suatu ketika sang profesor diundang ke Istana dan saat bersalaman dengan Presiden Soeharto, sang Presiden langsung menebak nama sang profesor ini. Ia pun heran mengapa presiden bisa tahu namanya seakan-akan sudah mengenalnya sangat lama. ‘’Ternyata, usut punya usut, ada intel yang mengikuti gerak–gerik ayah saya.” 

Dalam bidang akademik, Aqib merupakan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang masa itu masih menjadi IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia pernah menjadi Dekan Pertama Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1990-1994). Sebelum itu, ia pernah menjabat dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1973-1977), Asisten Ahli Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1970), Asisten Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta (1967), Tugas belajar ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) Jakarta (1960), Guru PGA Pamekasan (1959) dan Guru Agama SLTP di Pamekasan (1957). 

Aqib juga dikenal memiliki pribadi yang terbuka dan dekat dengan mahasisswanya. Sejumlah mahasiswanya banyak yang menjadi tokoh besar, semisal Prof. Dr. Komarudin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2006- 2015), Prof. Dr. Bahtiar Effendi (Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pernah menjadi dosen di Luar Negeri), Din Syamsuddin (Ketua MUI), Prof. Dr. Fachri Ali (Pengamat Politik), Dr. Jamhari Makruf (Wakil Rektor Bidang Kerjasama), Dr. Hendro Prasetyo (Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). 

Besar di lingkungan pesantren tidak serta merta membuat Aqib memilih untuk tetap menuntut ilmu disana. Selepas lulus SD (Sekolah Dasar) Islam Waliman Lamongan (1949), setahun kemudian ia melanjutkan ke SLP (Sekolah Lanjut Pertama) dan Sekolah Menengah Islam (SMI) Jurusan Budaya di Tuban, Jawa Timur (1953). Lalu ia melanjutkan pelajaran ke SGHA (Sekolah Guru dan Hakim Agama) Malang (1957). Sebagai siswa jurusan Sastra di SGHA, sedikit sekali pelajaran agama yang diterimanya. Kebanyakan bahasa Jawa Kuno, bahasa Inggris, bahasa Prancis, Aljabar, Ilmu Ukur, dan ilmu-ilmu umum lainnya. Dengan kenyataan ilmu yang diterimanya di SGHA ini dan dorongan batin untuk memenuhi harapan dari keluarga untuk menjadi seorang kyai pengganti orangtua, goncangan psikologis tak terelakkan lagi muncul dalam diri Aqib Suminto kala itu. Karena itulah ia lebih banyak belajar sendiri tentang Islam. Ia belajar dan berlatih. 

Ketika tamat SGHA dan bertugas sebagai guru di PGA (Pendidikan Guru Agama) dan SMEAN (Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri) Pamekasan, Madura (1957-1960), ia mulai berlatih menjadi khatib. Padahal, ia bukan mengajar agama di sekolah itu, melainkan sastra budaya. Modalnya tak lain hanyalah belajar sendiri dan melakukan persiapan sematang-matangnya sehingga ia bisa tampil di depan forum ceramah agama dengan sebaik-baiknya. Tiga tahun mengajar (1957-1960), pada 1960, Aqib Suminto diberi kepercayaan untuk tugas belajar di ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) yang kemudian menjadi IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di sinilah Aqib Suminto mencoba kembali mendalami ilmu agama secara formal dengan belajar dalam Jurusan Pendidikan Ilmu Agama Fakultas Tarbiyah (1964). 

Pada masa-masa awal di perguruan tinggi ini, Aqib Suminto menjalani hidupnya yang amat sederhana. Isi kantong dikelolanya dengan baik. Kebutuhan hidup sehari-hari sebagai seorang mahasiswa tentu banyak. Ia memerlukan biaya tambahan. Tidak saja untuk kebutuhan makan, tetapi kebutuhan untuk membeli buku-buku juga. Kemudian ia pun mulai menulis artikel-artikel lepas di majalah-majalah Islam dan selama enam tahun (1960-1966) menjadi pengedar majalah Gema Islam kepada langganan-langganan di seputar kampus IAIN Jakarta. Dari sinilah salah satu biaya tambahan yang diperolehnya. Namun sementara itu, bakatnya dalam berdakwah juga menghentak-hentak di dalam dirinya. Karena itulah selepas mendapat gelar Sarjana Muda di Fakultas Tarbiyah, ia pun pindah ke Fakultas Ushuluddin dan mengambil jurusan Dakwah (1968). 

Di samping kuliah, ia kembali mengaktifkan diri dalam dakwah. Karena sibuknya berdakwah, ia pernah sampai ditegur oleh dosennya, Osman Raliby. Selain itu, Prof. Osman Raliby juga merupakan dosen pembimbing skripsinya. Perjalanan selama menempuh pendidikan di IAIN kala itu tidak semulus bayangannya. Skripsi Aqib Suminto yang sudah diperiksa oleh Prof. Osman ternyata hilang. Padahal, ia sendiri juga tidak mempunyai salinan skripsi tersebut karena pada jaman itu, mesin fotokopi belum selumrah saat ini. Namun, tutur Nurul Hidayati, Aqib Suminto tidak kehabisan akal. Akhirnya ia kumpulkan kembali catatan-catatan lepas yang tersebar di mana-mana, kemudian ia tulis lagi menjadi skripsi. Selesai kuliah tahun 1968, Aqib Suminto dengan beberapa alumni Fakultas Ushuluddin membentuk “Korps Dakwah”. Melalui Korps Dakwah inilah lelaki yang bernama lengkap Raden Husnul Aqib Suminto melebarkan sayap dakwahnya sampai ke luar negeri. 

Karena itu, sejak 1971, ia berulang kali di undang masyarakat Islam Singapura dan pemerintah Malaysia untuk berdakwah di negeri tersebut. Pengalaman berdakwahnya di RRI (Radio Republik Indonesia) membuatnya juga didaulat mengisi dakwah di radio negeri tersebut. Ia merupakan pribadi yang suka belajar. Meskipun sibuk berdakwah, ia tidak melupakan pendidikannya. Hal ini terbukti ia pernah belajar studi purna sarjana di IAIN Jakarta pada tahun 1973- 1975. Kemudian ia juga mempelajari bahasa dengan mengikuti kursus bahasa Belanda di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1978. Ia juga memulai program doktornya pada tahun 1978 dengan studi keislaman di Negeri Belanda selama 10 bulan. Pokok masalah yang diangkat pada disertasinya ini ialah sekitar kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda dalam menangani masalah Islam di Indonesia yang banyak dipengaruhi pemikiran Snouck Hurgronje. 

Ia bertemu dengan istrinya secara tidak sengaja ketika sedang bertamu ke rumah salah satu kerabatnya. Perempuan yang nantinya menjadi istrinya itulah yang kemudian menyuguhkan minuman untuknya. Sejak saat itu, buih - buih cinta mulai merasuk ke hatinya. Kemudian ia beranikan diri untuk meminang sang pujaan hati dan diterima. Pria yang memilki hobby bermain tenis dan menulis ini menikah dengan Siti Chafsah Suminto pada 26 Agustus 1961. 

Saat menikah, ia berusia 28 tahun dan masih berstatus sebagai mahasiswa. Sedangkan sang istri berusia 15 tahun. Perbedaan usia mereka cukup jauh. Tetapi itu tidak mengurangi rasa cinta di antara keduanya. Dengan mas kawin uang tunai sebesar Rp 200,- ia resmi mempersunting Siti Chafsah, perempuan pekerja keras. Terlahir dari keluarga miskin dengan ibu yang sakit-sakitan, sejak kecil Chafsah sudah terbiasa bekerja. Sang adik yang dirawat dengan kakak tirinya membuat ia semakin diandalkan oleh orangtuanya, mulai dari memasak hingga menimba air ia lakoni. Karena orangtua sangat sayang padanya, suatu ketika saat Siti Chafsah berulang tahun dan dirayakan sampai mengundang bupati setempat. Begitupun kepada suaminya, ia sangat setia menemaninya dalam suka maupun duka. 

Dua tahun kemudian, tepatnya 30 September 1963, mereka dikarunai seorang anak lelaki, Arif Abdul Gaffar, akrab disapa Arif. Ketika sang istri sedang hamil anak pertama, Aqib pernah dipenjara. Pada masa itu, ia baru selesai mendapatkan gelar Sarjana Muda di Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatulah Jakarta, kemudian ia pindah ke Fakultas Ushuluddin. Menjelang ia kuliah tingkat doktoral ini, ‘’ribut-ribut’’ IAIN Yogyakarta yang kemudian merembet pula ke IAIN Jakarta mengakibatkan Aqib Suminto, yang ketika itu menjadi pengurus Dewan Mahasiswa dan berusaha menjernihkan persoalan, sempat ditahan aparat keamanan selama satu setengah bulan. Akibat lebih lanjut, tugas belajarnya dicabut dan ia tidak mendapatkan beasiswa kembali. 

Selepas dengan musibah tersebut, dua tahun setelah itu, ia kembali dipercaya sang Khalik untuk menjaga titipan-Nya yang kedua pada 14 Juni 1965. Anaknya diberi nama Nurul Inayati, biasa dipanggil Ruly. Saat Arif menginjak usia tiga tahun setengah, Aqib memiliki Anak perempuan kembali pada 28 Juni 1967 dan diberi nama Nurul Faizah atau Ulfah. Jarak usia anak pertama sampai ketiga berkisar dua tahun. Begitu juga dengan anak keempat ini, tepat pada 22 maret 1969, Nurul Hidayati, atau biasa disapa Ida, lahir ke dunia. Setahun kemudian Irfan Irawan atau Ipang lahir pada 22 Oktober 1970. Putra keenam Aqib Suminto lahir tiga tahun kemudian, tepat pada 17 Agustus 1973, dan diberi nama Agus Arifianto atau biasa dipanggil Ari. 

Hingga kini, keluarga Aqib Suminto masih tinggal di rumah dinasnya di Jalan Ibnu Rusyd I/146 Komplek UIN Ciputat Tangerang Selatan. Ia merupakan pribadi yang sederhana dan bersahaja. Begitupun ketika berdakwah, ia tidak pernah pandang bulu. Pernah ada masjid terpencil datang memintanya menjadi khatib untuk Hari Raya. Lalu saat mendekati Hari Raya, datang dari istana memintanya menjadi khatib juga, namun ditolak olehnya. “Bagi saya, siapa yang duluan, mau besar atau kecil masjid itu, saya akan datang,” tutur Aqib Suminto, seperti ditirukan Nurul Hidayati yang kini menjadi dosen di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Nurul Hidayati berkisah, ayahnya terkenal dengan kepribadiannya yang sabar. Jika marah, ia tidak pernah membentak. Hanya isi kalimatnya tajam dengan nada bicara yang biasa. Tapi saat ia mengeluarkan kata-kata lucu, itu mampu membuat orang terpingkal-pingkal. Ia adalah profil cendekiawan Muslim yang bersahaja. Tuntutan utama dalam kehidupannya adalah pengembangan diri, kemampuan keilmuan dan dakwah dengan sebaik-baiknya. Karena itu, kesederhanaan sangat terpantul di rumahnya yang bukan milik pribadinya, melainkan milik UIN. Jika dulu orang-orang sudah mengubah penampilan rumahnya dengan berbagai macam gaya, para tetangganya sudah membeli telepon, menyimpan makanan sudah di lemari es, pergi ke mana pun ditemani kendaraan beroda empat, kediaman Aqib Suminto sampai kini masih sama seperti awal ditempati dan barang-barang dirumahnya masih seperti sedia kala. 

Hanya saja, seiring dengan kebutuhan komunikasi yang meningkat, Aqib Suminto pun memasang pesawat telepon di rumahnya. Kehidupan a la kyai yang penuh kesederhanaan nampak sekali mewarnai keluarga guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini. Meski saat itu telah menjadi doktor, dengan sebuah Vespa berwarna kopi susu ia mendatangi tempat-tempat yang diundang untuk berceramah atau berdakwah. Begitupun ketika ia berdakwah, selain berdakwah di mimbar ia juga sering berdakwah melalui perbuatan. Begitupun anak-anaknya, mereka sering mendapatkan pelajaran dari sang ayah melalui perbuatan-perbuatannya. 

Sejak kecil, Aqib Suminto sudah aktif mengikuti berbagai kegiatan. Tercatat setidaknya ia memulai berorganisasi saat menjadi anggota pada Pelajar Islam Indonesia (PII) pada 1953-1957). Saat kuliah, ia menjadi anggota Senat Mahasiswa bagian penerangan (1960-1964), sebagai Ketua II Dewan Mahasiswa (1965-1967), dan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) (1965-1968). Selepas kuliah, ia juga aktif di Pusat Dakwah Islam sebagai sekretaris II (1972-1973), menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1975-1979), dan menjadi anggota Lembaga Pembinaan Tilawatil Qur’an (LPTQ) pada 1977-1979 . Aqib Suminto juga didaulat menjadi Dewan Hakim Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional dari tahun 1983-1990 sebelum ia jatuh sakit. 

Saat menjadi dewan hakim di Lampung, ia pernah difitnah oleh tim dari daerah lain yang tidak menang. Ia dituduh telah menerima suap sebesar Rp 1.000.000,-. dan hal tersebut sudah menyebar ke seluruh daerah. Mendengar berita tersebut, bukannya marah, ia hanya diam dan tenang. Ia hanya mengirimkan surat klarifikasi perihal berita tersebut kepada seluruh cabang LPTQ di Indonesia. Sebagai pendakwah, Aqib Suminto cukup dikenal dengan tulisan-tulisanya yang tajam tapi halus dalam mengadakan polemik dan menganalisa beberapa masalah penting dalam bidang agama. 

Semasa hidupnya ia sudah menerbitkan tiga buku, masing-masing Taubat (Tintamas, Jakarta, 1970) yang diterjemahkan dari Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghazali. Buku tersebut membahas mengenai taubat. Dalam membahas lebih lanjut, Al Ghazali mengutip sabda Rasulullah SAW: Setiap anak adam tidak sunyi dari kesalahan-kesalahan dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat dan mohon ampun. Buku keduanya adalah Problematika Dakwah (Tintamas, Jakarta, 1973). Buku ini merupakan kumpulan karangannya yang bertebaran di beberapa harian dan majalah. Demikian pula beberapa dakwah lisannya yang pernah disiarkan oleh RRI (Radio Republik Indonesia). Buku ini membahas mengenai ilmu pengetahuan, dakwah dan perbandingan agama, serta laporan-laporan perjalanan dakwanya di Singapura dan Malaysia. Buku terakhirnya berjudul Politik Islam Hidia Belanda (LP3S, Jakarta, 1985). 

Buku ini merupakan disertasinya di negeri Belanda. Perjuangannya selama menulis buku ini cukup berat. Pertama, ia harus mampu mengatasi bahasa Belanda karena sebagian besar sumber bukunya berbahasa tersebut. Kedua, harus kembali lagi ke negeri Belanda. Pokok masalah yang diangkat dalam disertasinya ini adalah sekitar kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda dalam menangani masalah Islam di Indonesia yang banyak dipengaruhi pikiran-pikiran Snouck Hurgronye. Pola dasar kebijaksanaan yang dilaksanakan kantor pemerintah untuk urusan-urusan Bumiputera (Islam) itu adalah pemisahan antara masalah agama dan politik. Mengaitkan masalah yang diangkat dalam disertasinya dengan Departemen Agama kala itu dalam masa kemerdekaan, Aqib Suminto mengakui, Kantoor vooor Indlandsche Zaken merupakan embrio dari Departemen Agama dalam tujuanya mengatur masalah Islam sekarang ini, membantu supaya umat Islam bisa lebih sejahtera karena orang-orangnya memang dari pihak pribumi sendiri. Sedangkan bagi Belanda tidak. Titik berat kebijaksanaan kantor itu adalah tegaknya kekuasaan Belanda. 

Semasa hidupnya, Aqib Suminto pernah menjuarai MTQ tingkat DKI Jakarta. Sejak itu ia kemudian diangkat menjadi Dewan Hakim MTQ Nasional sampai tahun 1990. Selain pernah menjuarai MTQ tingkat DKI Jakarta, ia juga pernah mendapatkan penghargaan dari LP3ES terhadap karyanya berupa buku bacaan dewasa, Bidang Ilmu-Ilmu Sosial yang berjudul Politik Islam Hindia Belanda pada tahun 1987. Karyanya tersebut membantu pembinaan generasi muda Indonesia dalam memenuhi hasrat bacanya untuk memperluas pengetahuan, serta mendorong dan menjiwai tunas-tunas dalam usaha mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. 

Setalah ia meniggal pun, jasa-jasanya pun selalu diingat. Hal ini terbukti pada tahun 2003, ia pernah pendapatkan menghargaan Ushuluddin Award sebagai Alumni Berpestasi. Dalam rangka milad ke-40 Fakultas Ushuluddin dan Filsafat kala itu. Masih di tahun yang sama, ia juga menerima penghargaan sebagai Ulama Al-Qur’an dari LPTQ Nasional yang diberikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Selain prestasi-prestasinya semasa maupun setelah masa hidupnya. Pengabdiannya terhadap ilmu dakwah sekaligus Dekan pertama, diabadikan dengan dinamainya teater lantai II Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan nama beliau. 

Sejak tahun 1990, ia mulai sakit. Kala itu, begitu sampai rumah sehabis menjadi Dewan Hakim MTQ Nasional di Kalimantan, terlihat perubahan dari wajahnya yang mulai memiring. Begitu diperiksa ternyata stroke ringan dideritanya. Bahkan, ketika masih di Kalimantan, saat ia sedang memberikan sambutan, tiba-tiba bicaranya berantakan, apa yang ia katakan tidak sesuai seperti apa yang ia pikirkan. Menurut Nurul Hidayati, saat itu sebenarnya ia sudah disuruh berhenti untuk ceramah. Tetapi karena semangatnya yang begitu besar dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang mubaligh, ia tak hiraukan larangan dokter. 

Setelah menjalani berobat jalan selama beberapa waktu akhirnya sang professor sehat kembali. Kurang lebih enam bulan sebelum sang guru besar wafat, ia sudah mulai keluar-masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta. Wasiat terakhirnya sebelum dipindakan ke Rumah Sakit Cipto Mangoenkusumo (RSCM) Jakarta ialah Gorok al-Qur’an. Setelah ditanya kembali apa yang ia maksud, ternyata kalimat itu berkonotasi positif, yakni hendaknya anak-anaknya membedah dan mempelajari al-Quran dengan sungguh-sungguh. 

Aqib Suminto akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya beberapa jam setelah dipindahkan ke ruang ICU Rumah Sakit Cipto Mangoenkusumo (RSCM) Jakarta, tepat pukul 23:30 tanggal 24 September 1994. Jasa-jasanya semasa hidupnya tidak terlupakan begitu saja. Karya-karyanya yang selalu dikenang sepanjang masa. Pemikiran kritisnya tersebar di beberapa surat kabar harian maupun majalah. Kecintaannya terhadap dunia dakwah terlalu besar, sampai akhirnya namanya diabadikan menjadi nama ruang Teater Lantai II Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.   

DAFTAR PUSTAKA 
• Suminto, Aqib. Problematika Dakwa, Tintamas: Jakarta . 1973 
• Suminto, Aqib. Politik Islam Hidia Belanda, LP3S: Jakarta. 1985 
• Suminto, Aqib, Panji Masyarakat, edisi September 1984 

NADA ROHMAH